Senin, 20 April 2015
Kisah Anak Afrika Gendong Ibunya Saat Umroh
SAHABAT saya bercerita bahwa di musim umroh dia bertemu dengan seorang pemuda kulit hitam dari Afrika yang sedang duduk-duduk di bukit Marwa setelah baru saja menyelesaikan sa'i. Sahabat saya ini memperhatikan pemuda ini karena kesabarannya menuntun ibunya yang sudah sepuh dan sesekali menggendongnya ketika sang ibu merasa capek.
Sahabat saya ini bertanya kepada pemuda ini dalam bahasa Inggris karena pemuda ini tidak bisa bahasa Arab: "Apa kabar? Anda dari mana?" Pemuda ini menjawab dengan ramah dan senyum: "Selama saya tetap dalam iman dan Islam, saya selalu baik-baik saja. Saya dari Afrika."
Jawaban yang tidak biasa ini membuat sahabat saya tertegun, terkagum dan tersadar bahwa apapun yang terjadi sesungguhnya adalah kembang cerita kehidupan, sementara intinya adalah beriman apa tidak, pasrah diri apa tidak.
Sahabat saya ini bertanya lagi: "Orang tua yang Anda tuntun dan gendong ini ibu Anda apa nenek Anda?." Dia menjawab: "Ibu saya, beliau sudah tua, usia 96, dan saya adalah anak bungsunya, anak yang ketiga belas." Sahabat saya geleng-geleng sambil bertasbih dan berujar: "Wanita luar biasa. Nyonya Meneer yang punya pabrik jamu saja tidak sehebat ini."
Pertanyaan terakhir sahabat saya sambil setengah guyon: "Hebat sekali pengabdian Anda pada ibu Anda. Bagi Anda, sebenarnya mana cantik antara bulan dan ibu Anda?" Jawabannya betul-betul tak terduga: "Yang jelas, kalau saya melihat bulan maka saya ingat ibu saya, dan kalau saya melihat ibu saya maka saya lupa sama bulan." Subhanallah, anak shalih.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar